Oleh : dr. Maulana Adrian S

Mungkin kita pernah menjumpai teman atau saudara kita mengalami gejala alergi setelah minum obat-obatan tertentu. Dari yang bergejala ringan sampai gejalanya berat dan gawat sampai mengancam nyawa seperti pada sindroma Steven Johnson dan Nekrolisis Epidermal Toksik. Ada banyak hal yang mempengaruhi seseorang itu dapat mengalami alergi, karena setiap individu mempunyai respon imun yang berbeda-beda terhadap suatu obat-obatan tertentu atau zat tertentu. Alergi sebenarnya adalah respon tubuh untuk menanggapi suatu keadaan yang terjadi dalam tubuh yang biasanya terkena paparan alergen atau zat toksik yang mengganggu keseimbangan sistem imun tubuh kita.
Sebenarnya banyak efek toksik obat-obatan yang terjadi pada tubuh seperti pada ginjal, hati dan organ dalam lainnya, tapi yang tersering dijumpai terkena dampak dari efek toksik tersebut adalah kulit,karena kulit mudah dilihat. Gejala-gejala timbul bila kita terkena paparan zat toksik obat-obatan bisa menyerupai gejala yang terjadi pada alergi terhadap makanan, atau zat-zat tertentu selain obat-obatan. Sering dijumpai perubahan bentuk pada kulit dalam waktu dari yang beberapa menit sampai beberapa bulan setelah kita mengkonsumsi obat-obatan tertentu.

Gejala yang terjadi pada kulit
Gejala pada kulit bermacam-macam variasi bentuknya dari yang berupa bintik-bintik kecil kemerahan sampai kulit melepuh seperti luka bakar. Keadaan yang sering terjadi pada kulit adalah urtikaria. Dimana adalah reaksi kulit yang ditandai dengan kulit berasa gatal, panas dan tampak kemerahan sepert plakat, bisa lokal maupun meluas keseluruh tubuh. Biasanya reaksi ini terjadi dalam 24 jam. Jika urtikaria ini sampai mengenai selaput lendir tubuh disebut dengan angioderma. Keadaan ini dapat mengancam jiwa jika disertai dengan reaksi anafilaksis dengan tanda nadi cepat, tensi turun, perasaan gelisah, kacau maka segera ke dokter untuk mendapatkan perawatan gawat darurat. Urtikaria dapat disebabkan oleh obat golongan NSAID seperti aspirin, indometacin, obat golongan ACE Inhibitor (seperti captopril) dan obat kontras untuk radiologi (obat yang digunakan dalam membantu tindakan radiologi seperti IVP). Urtikaria juga sering terjadi setelah minum obat golongan penicilin dan golongan sulfa (obat typoid.) Sedangkan urtikaria kronik dimana terjadi selama 6 minggu atau lebih biasa disebabkan oleh aspirin dan obat cat rambut. Sedangkan angioderma akan memperlihatkan tanda yang khas dimana tampak bercak kemerahan sampai bintik kemerahan pada selaput lendir seperti pada mukosa mulut, sehingga sering dikelirukan dengan tanda dari faringitis, tonsilitis akut. Jadi jika setelah minum obat beberapa saat kemudian timbul rasa gatal,tebal/bengkak dan kemerahan pada mukosa mulut dan tanpa diserta dengan demam maka layak dicurigai terkena angioderma ,dan hendaknya segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat, karena bisa menjadi udem laring yang dapat mengakibatkan sesak napas.

Selain urtikaria masih ada lagi perubahan pada kulit seperti perubahan warna kulit menjadi agak gelap ,warna bibir jadi kebiru biruan, keluar gelembung kecil sampai besar pada kulit yang berisi cairan, rambut kepala rontok dan bahkan kulit akan mengelupas.Perubahan warna kulit biasanya terjadi pada daerah yang terkena kontak dengan sinar matahari langsung,tapi dapat juga terkena pada seluruh tubuh.Warna kulit berubah jadi biru keabu-abuan setelah menggunakan obat-obatan seperti pil kontasepsi,anti malaria, phenotoin, obat terapi kanker, dan obat yang mengandung logam berat (emas, perak, bismut).
Sedangkan perubahan khas pada mukosa seperti pada bibir atau alat kelamin berubah warna menjadi biru kehitaman dalam istilah ke dokterannya disebut fixed drug eruptions akan timbul setelah minum obat tertentu seperti tetrasiklin, phenolphtalein (obat pencahar dijual bebas),barbiturat, salisilat dan pil kontrasepsi. Reaksi ini akan timbul berulang jika meminum obat tersebut secara berulang.
Erupsi akneiform adalah perubahan pada kulit seperti timbul jerawat, yang mula-mula bintik kecil kemudian berubah menjadi komedo.Sering terjadi didaerah wajah dan badan, ini disebabkan setelah menggunakan obat seperti prednison, hormon androgenik, isoniasid, phenitoin, lithium, halogens dan amiodaron. Kelainan ini dapat timbul tiba-tiba selama beberapa minggu sampai beberapa bulan. Untuk yang mengakibatkan kelainan rambut sehingga mudah rontok disebabkan oleh obat golongan kortikosteroid, obat hormonal seperti pil kontrasepsi, hormon androgen, obat kanker, obat penghambat beta, trazodon, inosiasid, haloperidol dan penithoin.

Sindroma Steven Johnson
Kejadian ini sebenarnya jarang dijumpai, tetapi seiring dengan mudahnya obat diperoleh secara bebas akan meningkatkan angka kejadian ini. Penyakit ini merupakan kumpulan gejala pada satu orang yang meliputi kelainan pada kulit, kelainan pada selaput lendir dan kelainan pada mata. Penyakit ini jarang dijumpai pada anak usia 3 tahun kebawah. Obat-obatan yang di sangka sebagai penyebab antara lain golongan penisilin dan semisintetiknya, streptomisin, sulfonamida, tetrasiklin, obat analgetik-antipiretik seperti metamizol,metampiron, salisilat dan derivatnya/pirasolon, dan parasetamol.
Gejala yang timbul bervariasi dari yang ringan sampai yang berat, dan yang berat biasanya disertai dengan gangguan kesadaran.Mulainya penyakit ini berawal dari minum obat-obatan yang disangka dapat menimbulkan reaksi alergi, keemudian waktu terjadi sindrom ini bisa beberapa jam sampai beberapa bulan. Sebelum menjadi sindroma Steven Johnson, biasanya disertai dengan gejala awal/ masa prodormal. Gejala awalnya memang sulit dibedakan dengan gejala sakit radang tenggorokan biasa, seperti demam tinggi, nyeri kepala, batuk, pilek, nyeri tenggorok dan perasaan malas. Kemudian disertai timbulnya trias kelainan pada kulit, selaput lendir, dan mata.
Kelainan kulit ini pada yang berat biasanya menyeluruh di bagian tubuh dan tampak terdiri atas kulit berwarna kemerahan, bintik-bintik berisi air dengan ukuran dari yang kecil sampai besar, kemudian bintik-bintik tersebut pecah dan bekasnya akan mengelupas sehingga terjadi erosi kulit yang luas. Untuk kelainan pada mukosa yang tersering terjadi pada daerah mulut, lobang alat kelamin, lubang hidung dan anus. Tampak kelainan juga berupa bintik-bintik berisi air kemudian pecah dan mengelupas, kemudain hasilnya berupa krusta berwarna hitam dan tebal, ini tampak jelas pada bibir. Sedangkan di daerah faring, esofagus,dan saluran napas bagian atas juga mengalami kelainan, difaring akan terbentuk membran palsu yang akan menyebabkan keluhan sukar bernapas. Stomatitis atau sariawan pada mukosa mulut akan menimbulkan keluhan sukar atau tidak dapat menelan. Pada mata penderita juga mengalami kelainan berupa konjungtivitis (mata merah), perdarahan mata, ulkus/luka pada kornea, radang iris.
Komplikasi yang timbul pada sindroma ini adalah bronkopneumonia, kehilangan cairan tubuh yang banyak, gangguan elektrolit tubuh, kebutaan dan syok. Sedangkan diagnosis bandingnya adalah Nekrolisis Epidermal Toksik, pada penyakit ini sangat berat dan dapat menimbulkan kematian. Gejala gejalanya hampir sama dengan Sindroma Steven Johnson, yang membedakan adalah pada NET tampak kelainan kulit seperti luka bakar (kulit melepuh dan mengelupas biasanya hampir seluruh bagian tubuh), kuku mudah terkelupas, kesadaran menurun, dan kulit akan mudah mengelupas jika kulit ditekan dan digeser, ini mudah dilihat pada bagian bokong dan punggung karena biasanya penderita berbaring.

Penanganan dan pengobatan
Pada penanganan urtikaria dengan anafilaktik karena merupakan kondisi gawat darurat maka segera minta pertolongan pada dokter terdekat sehingga tidak menjadi keadaan yang dapat mematikan. Sedangkan penanganan pada keadaan tidak gawat darurat maka dilakukan :
1. Obat-obatan tidak pokok yang mengakibatkan reaksi alergi hendaknya dihentikan, untuk mengetahui obat ini pokok atau tidak segera konsul ke dokter pemberi obat tersebut,
2. Obat-obatan yang mengakibatkan reaksi alergi ringan seperti gatal-gatal dan timbul merah pada kulit untuk beberapa saat saja boleh diteruskan, tapi dengan pengawasan dokter, yang dimana bila timbul reaksi melebihi biasanya maka segera ke dokter untuk mendapatkan pertolongan.
3. Obat-obatan pokok dengan reaksi alergi yang dapat mengancam jiwa harus dihentikan, konsul ke dokter apakah obat ini diteruskan dengan pemberian dosis bertahap atau diganti dengan obat lain.
4. Sebaiknya pada penderita yang mengalami alergi obat tertentu minta penjelasan pada dokter obat apa saja yang harus dihindari,dan pada penderita yang pernah terjadi reaksi anafilaksis maka sebaiknya minta tanda khusus atau peneng pengenal yang selalu dibawa oleh penderita yang berisi informasi tentang alergi obat tertentu sehingga kalau terjadi reaksi lagi mudah untuk ditangani.
Untuk obat-obatan yang dapat mengurangi gejala dan rasa tidak nyaman boleh diberikan obat yang dijual bebas yang berisi antihistamin, kortikosteroid topikal atau bisa dilakukan dengan kompres air dingin, untuk mengurangi rasa gatal tapi dianjurkan untuk ke dokter agar mendapatkan pengobatan yang sesuai. Sedangkan untuk Sindroma Steven Johnson dan Nekrolisis Epidermal Toksik hanya bisa diobati pada Rumah Sakit yang mempunyai bangsal perawatan spesialis kulit, maka jika ada gejala-gejala seperti tersebut diatas maka segera bawa ke rumah sakit umum terdekat