Muhammad Sawiri menjadi tukang becak yang sangat merasa bangga dengan keberhasilan anaknya (Herayati) yang menjadi mahasiswa terbaik FMIPA ITB dengan index Prestasi Kumulatif (IPK) 4. Mahasiswa yang berasal dari Lingkungan Masigit, Kelurahan Kotasari, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon yang diterima kuliah secara gratis di Fakultas Matematika dan IPA Institut Teknologi Bandung (ITB), merupakan anak tukang becak. Sehari hari ayah dari Herayati menarik becak di lingkungan rumah sakit Krakatau Medika.

Lulusan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Cilegon itu semasa sekolah gemar sekali belajar matematika. Waktu masih Sekolah Dasar (SD), Hera, begitu biasa dipanggil pernah bertanya kepada dirinya tentang kunci mempelajari ilmu hitung ini. Dari jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pulomerak, Herayati termasuk anaknya yang  tidak pernah lepas dari prestasi. Hera selalu mendapatkan peringkat pertama. Kalau pulang sekolah biasanya dia langsung belajar. Kalau ada temannya ke rumah, barulah Hera biasa bermain. Mengenai kegiatan-kegiatan di sekolah, Sawiri selaku orang tua mengaku tidak terlalu memperhatikan secara utuh. Namun saat pembagian rapor, yang ia tahu anaknya selalu saja mendapatkan peringkat. Sewaktu lulus dari SMA, Hera juga pernah ditanya oleh wali kota Cilegon soal keinginannya untuk melanjutkan kuliah dimana, dan Hera mengatakan harapannya untuk kuliah di ITB, dan alhamdulillah sekarang Hera bisa mewujudkan mimpinya itu.

Dalam menjalani hidupnya motivasi yang sangat menginspirasi Hera ialah orang tuanya sendiri. Ayahnya yang hanya bekerja sebagai tukang becak, tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Sehingga, ia ingin membanggakan orang tuanya lewat nilai kuliah dan prestasinya.  Berkat itu Hera terus menunjukkan prestasinya selama masuk di ITB. Terbukti dari hasil Indeks Prestasi (IP) yang tergolong tinggi. Sejak semester 1, Hera mampu meraih IP 3,53 namun dalam perjalanannya, di semester ke dua Hera sempat turun nilainya, dan di semester 3 kembali naik lagi dengan IP 3,88. Hera mencapai IP 4 mulai semester 5. Meski memiliki prestasi mentereng saat ini, Hera belum mau berpuas diri, dia merasa perjalanannya untuk bisa meraih cita-cita belum tercapai sebelum bisa menggapai mimpinya untuk menjadi seorang dosen. Mengingat, persyaratan menjadi dosen minimal berstatus S2.

Berkat kegigihannya jalan menuju cita-citanya itu mulai terbuka. Saat ini, Hera sedang mengikuti program honours (kehormatan) yang ada di FMIPA ITB. Lewat program itu, Hera bisa melangkah ke program unggulan lainnya yaitu fast track. Program fast track itu membuat mahasiswa bisa kuliah S1 dan S2 selesai dalam waktu 5 tahun. Ini kesempatan yang baik buat Hera. Mudah-mudahan selalu diberikan kelancaran. Demikian berbagi informasi untuk kali ini, semoga dapat menginspirasi & semoga kami selalu bisa berbagi informasi yang baik dan bermanfaat kepada semua.

-Klinikita berbagi senang & sehat di tahun 2017-

 

Sumber foto :

https://www.goriau.com