Hoax menjadi perbincangan hangat di media massa maupun media sosial akhir – akhir ini, Karena dianggap meresahkan publik dengan informasi yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Banyak publik yang merasa sangat terganggu dengan keberadaan kabar hoax yang tak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Kata hoax sendiri sebenarnya berasal dari “hocus pocus” yang aslinya adalah bahasa Latin “hoc est corpus”, artinya “ini adalah tubuh”. Kata ini biasa digunakan penyihir utk mengklaim bahwa sesuatu adl benar, padahal belum tentu benar.

Terkadang hoax hanya Sekadar iseng/lelucon. Kadang pembuat hoax mengirim berita bohong kepada orang2 dekatnya tanpa niat untuk menyebarkan ke masyarakat luas. Namun sebagian penerima tidak menyadarinya sehingga hoax ini tersebar luas. Namun tidak menutup kemungkinan juga ada sebagian orang yang sengaja menyebarkan kabar hoax untuk meresahkan publik.  Umumnya hoax memiliki ciri-ciri seperti berikut:

  • Adanya kalimat seperti ini: ‘Kirimkan ini ke setiap orang yang Anda kenal? Semakin mendesak permintaannya.
  • Perhatikan bahasanya yang terlalu berempati, begitu juga penggunaan huruf besar
  • Baca dengan hati-hati dan berpikir kritis, lihat ketidakkonsistenan yang logis, bertentangan dengan akal sehat dan klaim palsu yang menyolok.
  • Periksa sumber dari luar. Hoax biasanya tdk menyebutkan kenyataan yang dapat dibuktikan.
  • Pembuat hoax biasanya mencoba segala cara untuk membuat dusta mereka dapat dipercaya, contoh: menghubungkannya dgn sumber ‘resmi’ (padahal tidak ada sumber yang pasti).

Di tengah berkembangnya teknologi dan ramainya pengguna media sosial saat ini, kita harus benar- benar bijak dalam menghadapi berita hoax yang ada, agar tidak menjadi salah satu korban berita palsu tersebut. Maka dari itu ada beberapa cara mengatasi agar bisa lebih cerdas dan bijak dalam menghadapi kebenaran sebuah berita, di antaranya :

1. Menanyakan ke pihak yang tahu soal kabar yang beredar

Informasi yang datang melalui media apa pun, sebaiknya langsung di tanyakan pada pihak yang mengetahui betul persoalannya. Bisaa menghubunginya melalui akun sosial media miliknya, bisa juga meneleponnya langsung jika sudah tahu siapa orangnya atau mungkin sudah kenal baik.

2. Cari sumber berita di internet

Misal  tidak mempunyai akses komunikasi dengan pihak penyebar hoax, kita bisa langsung mencarinya sendiri melalui internet (google). Bandingkan berbagai informasi yang sama terkait dengan berita yang diterima. Bisa jadi saat  melakukan pencarian, ternyata sudah ada link informasi atas klarifikasi berita tersebut. Untuk cek berita yang memuat gambar, Google juga menyediakan fitur Google Image sebagai petunjuk darimana pertama kali gambar tersebut berasal.

3. Periksa sumber berita

Sumber berita seharusnya dicantumkan di akhir tulisan. Penulis yang baik dan bertanggungjawab atas isi tulisannya biasanya mencantumkan dari mana ide atau referensi tulisannya. Kecuali tulisan tersebut hanyalah opini pribadi, bukan berita investigasi.

4. Periksa Sumber Primer dari Dunia Ilmiah

Kalau informasi tersebut berupa artikel yang terkesan ilmiah dan masuk akal, yang mengutip pendapat dari ilmuwan ternama, maka pastikan kebenaran artikelnya melalui sumber-sumber primer dunia ilmiah. Misalnya, bisa cek langsung di jurnal ilmiah/akademis, artikel yang terdapat pada website resmi perguruan tinggi, dan buku-buku teks akademis. Google juga menyediakan fitur Google Scholar dan Google Books untuk memudahkan pencarian jurnal atau buku ilmiah.

Demikian yang bisa kami informasikan, harapan kami lebih bijaklah dalam hadapi berita hoax, dan jangan sampai kita yang menjadi korban dari berita berita yang tidak jelas sumber dan kebenarannya. Kami selalu berupaya berbagi informasi untuk semua dalam hal apaun, dan tak terbatas tentang kesehatan saja, karena pada dasarnya kami suka berbagi untuk semua.

– Klinikita Berbagi Senang & Sehat Di Tahun 2017-